Menikmati Hidup dangan Kesederhanaan
Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang mahasiswa baru di salah satu universitas terbesar di Indonesia. Sebut saja namanya Fulan. Dia berasal dari keluarga yang berpenghasilan pas-pasan, yang sedang berjuang untuk mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik.
Fulan rela pergi meninggalkan kampung halamannya di daerah timur pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pergi dengan tekad dan semangat yang kuat untuk merubah nasibnya menuju kesuksesan. Menurutnya, kita harus meninggalkan apa yang kita punya di kampung untuk menikmati hasil dari perjuangan itu di kemudian hari.
Yang dikatakan oleh Fulan itu memang benar. Kita harus rela meninggalkan orang-orang yang kita sayangi di rumah untuk meraih pendidikan tertinggi. Dengan motivasi yaang kuat dan semangat untuk merubah nasib. dan juga tidak lupa berdoa kepada tuhan untuk melancarkan segala sesuatunya.
Aku yang biasanya hidup di Pekanbaru tentu terkejut saat sampai di sana. Di Kota asalku, harga nasi ramas sajaa dengan lauk ayam sudah berharga lebih kurang lima belas ribu rupiah. Sedangkan di sini hanya berkisar antara Rp. 7500 hingga Rp. 9000 itu udah komplit dengan botol air. Perbedaan harga ini tentu tidak begitu masalah bagiku. Tapi bagi si Fulan, lauk telur dan sayuran sehargaa lima ribu rupiah saja sudah kenyang dan bertenaga.
Itulah kenapa aku harus berada di tempat itu. Disanalah aku bisa belajar untuk hidup sederhana. Hidup jauh dari orang tua membuatku harus bisa bertindak lebih dewasa, lebih tanggap. dari Fulan aku belajar untuk hidup sederhana, tanpa ada kemewahan. Aku bisa bayangkan jika aku berada di kota asalku yang rata-rata adalah anak orang kaya. Yang setiap hari jajannya Rp.100 ribu tentu berbeda jauh si Fulan.
Aku memang terbiasa untuk tidak hidup boros. Jika teman yang lain bisa menghabiskan lima puluh ribu sehari, aku hanya diberi jajan dua puluh ribu saja. Tidak berbeda jauh memang, tapi sekarang aku nggak menggunakan sepeda motor atau mobil seperti di rumah, hanya berjalan kaki dan kadang meminjam sepeda di shelter sepeda yang disediakan. Memang berbeda sekali.
Melihat keadaan yaang seperti itu, aku merasa bersyukur dapat diberikan rejeki yang lebih banyak daripada mereka. Semoga inimenjadi pelajaran yang berharga bagiku.
Komentar
Posting Komentar