Pergi Liburan pada Saat Pandemi Covid-19
Tak terasa pandemi covid 19 telah menyerang berbagai negara di seluruh dunia selama satu tahun lebih. Banyak hal yang berubah dari datangnya pandemi ke negeri ini, diantaranya adalah keterbatasan mobilitas.
Istana Pagaruyung yang melambangkan kerajaan di Sumatera Barat pada masa lampau
Menikmati pemandangan dari lantai 2 Istana Pagaruyung
Pandemi memaksa kita untuk tidak banyak beraktivitas keluar rumah, mulai dari work from home (WFH), school from home (SFH) dan juga pembatasan okupansi tempat wisata, rumah makan, kafe dan tempat-tempat keramaian lainnya.
Keterbatasan mobilitas tersebut memaksa banyak industri yang membutuhkan adanya aktivitas fisik terdampak secara ekonomi. Banyak rumah makan dan tempat wisata yang sepi, rumah makan yang mulai mengalami pergeseran (shifting) dari makan di tempat menjadi hanya melayani pesanan take away, dan banyak hal lainnya yang kita sadari ataupun tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Salah satu perubahan yang saya alami dan saya lihat langsung adalah pembatasan okupansi pada tempat wisata dan perbelanjaan, di Pekanbaru dan juga pada saat saya masih berada di Bogor. Hal itu membuat saya dan keluarga di rumah memilih untuk tidak banyak keluar rumah dan hanya keluar untuk kepentingan tertentu saja, seperti belanja keperluan bulanan di hypermarket.
Karena kebosanan kami sekeluarga dengan kondisi , maka kami sepakat untuk mengadakan vakansi atau liburan singkat, satu malam saja ke Sumatera Barat. Pertimbangan kami berani untuk pergi adalah pada saat kondisi kasus covid 19 mengalami penurunan dan sedang tidak diberlakukannya pembatasan aktivitas antar kota-antar provinsi. Sehingga kota yang kami kunjungi diantaranya adalah di sekitar Bukittinggi dan Payakumbuh. Berangkat hari sabtu dan pulang hari Minggu besoknya.
Berangkat dari Pekanbaru pukul 6 pagi dengan adik saya sebagai driver. Oh iya, kami juga berhenti sejenak sarapan lontong di perjalanan Pekanbaru menuju Bangkinang selama hampir setengah jam. Setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali ke arah kota Payakumbuh. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih empat jam sampai dengan Kota Payakumbuh, dimana kami sempat juga berhenti untuk membeli buah durian yang akan kami santap di hotel pada malam harinya.
Sampai di Payakumbuh kami berhenti di taman wisata tematik di dekat lembah Harau. Saya yang sudah lama tidak ke Sumbar cukup takjub melihat perkembangan lembah Harau yang sekarang tidak hanya sekedar hiburan air terjunnya saja. Tempat wisata yang dikunjungi di Harau ini memiliki tema-tema khusus, diantaranya tema eropa, tema asia (Jepang dan Korea). Banyak spot foto di lokasi ini, hanya saja saya tidak terlalu banyak mengambil foto sendiri.
Foto di depan lokasi Tema Eropa
Spot tema lokasi pertama yang kami kunjungi adalah tema Eropa, di tempat ini ada beberapa spot foto dan disediakan pakaian yang disesuaikan dengan tema background nya, seperti pakaian nelayan Belanda, untuk berfoto di depan kipas angin khas Belanda seperti foto saya di atas, ada juga replika menara Eiffel dan Louvre Museum yang merepresentasikan Kota Paris dan Big Ben yang melambangkan Kota London.
Spot Foto di depan Taman Tema Jepang/Korea
Selain tema Eropa, ada juga tema Asia, diantaranya Jepang dan Korea. Di lokasi ini juga tersedia pakaian tema yang menyesuaikan latar lokasinya, yang disewakan dan fotografer freelance yang siap memotret di spot foto-foto tersebut. Meskipun terbatas, namun kami dapat menikmati suasananya untuk sekedar refreshing dan menikmati suasana yang berbeda dari rumah.
Oh iya, untuk masuk ke area itu, ada beberapa titik lokasi pembelian tiket masuk untuk ke masing-masing tema, bisa beli per satu spot tema maupun tiga tempat tersebut sekaligus (sejenis one way ticket gitu lah).
Perjalanan kami lanjutkan ke arah Kota Payakumbuh untuk menyantap makan siang, setelah puas berkeliling di Wisata Harau sebelumnya. Kombinasi lapar dan makanan yang baru selesai dimasak adalah pembangkit selera yang sangat luar biasa. Kuliner adalah salah satu tujuan kami saat berada di Sumbar ini, dan kami sangat puas makan di sini. Karena terlalu menikmatinya, kami tidak sempat untuk mendokumentasikan makanan yang kami santap di restoran ini, Ha.. ha.. ha.
sumber foto: https://www.jernihnews.com/berita/1826/rm-sederhana-payakumbuh-buka-hingga-sahur.html
Perjalanan kami lanjutkan di Bukittinggi. Kami tiba di Bukittingi pada sore hari dan beristirahat di Hotel. Lokasi hotel kami tidak berada jauh dari Jam gadang, pusat keramaian di Kota Bukittinggi. Kami menghabiskan waktu sore hari dengan beristirahat sebentar dan dilanjutkan berjalan-jalan di pasar yang berada di sekitar Jam Gadang. Kami tidak banyak berkeliling di Bukittinggi, hanya di antara Taman di Jam Gadang dan Hotel tempat kami menginap. Hanya menyantap martabak kubang yang berada dekat dari Hotel dan kembali beristirahat, karena esok harinya harus kembali berangkat ke arah Pekanbaru.
Suasana malam minggu di Kota Bukittinggi sangat ramai. Terlihat dari banyaknya mobil yang mengantre karena mengalami kemacetan dan kafe-kafe yang penuh riuh suara live music. Suasana kota wisata yang penuh kepadatan ini tentunya sangat berbeda jauh dengan apa yang dicanangkan oleh pemerintah bahwa pandemi mengharuskan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Kenyataannya, Bukittinggi penuh dengan masyarakat yang sudah jenuh di rumah saja.
Paginya, kami bersiap untuk keluar dari hotel dan melanjutkan perjalanan arah pulang ke pekanbaru. Sebelum menuju ke arah pulang, kami mampir sejenak ke Istana Pagaruyung di Batusangkar dan berfoto-foto di sekitar Istana. Untuk masuk, kita harus membeli tiket dulu dengan harga sekitar 15 ribu rupiah per orang, dan selanjutnya kita bisa nikmati suasana dan mengabadikan foto. Karena cukup menikmati liburan, saya tidak banyak mendokumentasikan perjalanan kali ini.
Menikmati pemandangan dari lantai 2 Istana Pagaruyung





Komentar
Posting Komentar