Negeri di Ambang Cermin

Di sebuah negeri yang katanya elok dan penuh potensi, para pemimpin berdasi melangkah gagah di atas podium janji.

Mereka tersenyum ramah saat kampanye, menyapa rakyat, mencium tangan bayi, dan menepuk punggung petani. Tapi begitu singgasana kuasa mereka duduki, suara mereka mulai lirih, pidato menjadi kalimat yang dibalik, dan layar media ditutup rapat oleh kepentingan.

Mereka yang dulu disebut "yang terhormat" kini menjadi berita karena skandal. Ada yang tertangkap tangan, ada yang licin seperti belut. Norma jadi hiasan di dinding birokrasi. Dan hukum? Ah, sering kali hanya jadi pentas drama, di mana aktor utamanya justru bukan penegak keadilan.

Di sudut lain negeri ini, seorang pemimpin muda dari daerah pinggiran rajin mengunggah aktivitasnya di media sosial. Katanya ingin dekat dengan rakyat, katanya ingin membuka harapan baru. Semoga saja unggahan itu bukan sekadar pencitraan, tapi cermin dari niat tulus dan kerja nyata—karena negeri ini sudah terlalu kenyang dengan ilusi layar kaca.

Sementara itu, generasi muda berada di ambang ledakan jumlah—bonus demografi, kata para ahli. Tapi apakah kita siap? Atau malah sibuk bersolek di TikTok dan ribut di kolom komentar? Ini bukan zaman diam menunggu keajaiban, ini zaman di mana kesadaran harus tumbuh lebih cepat daripada hoaks yang menyebar.

Pemerintahan kita bicara tentang efisiensi. Tentang birokrasi ramping dan digitalisasi. Tapi realitas berkata lain: sistem sering macet, pelayanan lamban, dan koordinasi berantakan. Sampai kapan kita hidup dalam skenario uji coba yang tak kunjung selesai?

Sementara itu, negeri di seberang Selat Malaka terus berlari. Mereka menyambut investor dengan karpet merah, sementara kita masih sibuk menggelar tikar rapat untuk membahas siapa yang berhak untung lebih dulu. Janji 20 juta lapangan kerja masih melayang di udara, menggantung bersama baliho usang yang dulu berteriak “perubahan.”

Di kancah global, dua negara raksasa saling lempar tarif dan embargo. Kita, negara dunia ketiga, terkena serpihan. Bahkan inovasi kita sendiri, seperti QRIS, terancam ditarik ke meja negosiasi. Diplomasi? Terlalu sering kita datang sebagai peminta, bukan sebagai mitra sejajar.

Dan kepada kalian, mahasiswa negeri ini—belajarlah. Jangan hanya sibuk berorasi saat pemilu. Jangan puas hanya dengan nilai IPK tinggi. Jangan jadi generasi yang diam ketika tanah air dipijak asing, tapi gagap bersuara karena tak tahu apa yang sedang terjadi. Jangan sampai engkau menjadi tamu di negaramu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Vital Teknologi Informasi dalam Perdagangan Elektronik (E-commerce)

Strategi Lobi dan Negosiasi Indonesia dalam Memperkuat Perdagangan Kelapa Sawit di Pasar Internasional

Dari Ide hingga Sertifikasi Halal: Mendampingi Inovasi Vokasi SMKN 1 Pinggir