Negeri di Ambang Cermin
Di sebuah negeri yang katanya elok dan penuh potensi, para pemimpin berdasi melangkah gagah di atas podium janji. Mereka tersenyum ramah saat kampanye, menyapa rakyat, mencium tangan bayi, dan menepuk punggung petani. Tapi begitu singgasana kuasa mereka duduki, suara mereka mulai lirih, pidato menjadi kalimat yang dibalik, dan layar media ditutup rapat oleh kepentingan. Mereka yang dulu disebut "yang terhormat" kini menjadi berita karena skandal. Ada yang tertangkap tangan, ada yang licin seperti belut. Norma jadi hiasan di dinding birokrasi. Dan hukum? Ah, sering kali hanya jadi pentas drama, di mana aktor utamanya justru bukan penegak keadilan. Di sudut lain negeri ini, seorang pemimpin muda dari daerah pinggiran rajin mengunggah aktivitasnya di media sosial. Katanya ingin dekat dengan rakyat, katanya ingin membuka harapan baru. Semoga saja unggahan itu bukan sekadar pencitraan, tapi cermin dari niat tulus dan kerja nyata—karena negeri ini sudah terlalu kenyang dengan ilus...